Headlines News :
Home » » Gemerlap Masjid Ceng Ho, Pelurusan Sejarah Masa Lalu

Gemerlap Masjid Ceng Ho, Pelurusan Sejarah Masa Lalu

Written By KAMMI Jatim on Minggu, 26 April 2015 | 03.12


Arsitektur Masjid Ceng Ho Surabaya (sumber gambar : www.wego.co.id)

Masjid Ceng Ho Surabaya, salah satu dari sekian destinasi Masjid unik dan eksotik di Indonesia. Masjid yang dibangun pada Tahun 2001 dan selesai pada Tahun 2002 ini, mempunyai desain yang unik. Umumnya Masjid yang dibangun di tanah air menggunakan corak arsitektur Jawa dan Timur Tengah, sedangkan Ceng Ho di desaign khusus dengan sentuhan corak khas tiongkok. Selain arsitektur, Masjid yang terletak di tengah pemukiman penduduk ini juga menggunakan nama Tiongkok yang tak lazim digunakan pada tempat ibadah umat Islam di Indonesia
.
Penamaan Ceng Ho  sebagai masjid  bukan tanpa sebab, Laksamana Ceng Ho, Zeng He atau Sam Poo Kong adalah seorang admiral Armada angkatan laut dari kekaisaran Dinasti Ming III asal Tiongkok. Laksamana Ceng Ho sebagai sosok yang terkenal dan dihormati masyarakat Tionghoa tak lain seorang kasim yang mempunyai karir militer yang cemerlang. Pada saat menjadi abdi sang Kaisar Ying Luk, Ceng Ho mendapatkan tugas menjelajah dunia dengan misi perdamaian dan salah satu persinggahan dari rombongan Laksamana adalah pesisir nusantara.

Kedatangan Ceng Ho pada tiap lokasi yang dikunjunginya memberikan kesan tersendiri. Tercatat Ceng Ho melintasi pesisir Utara Jawa, dilanjutkan ke pesisir Sumatra, lalu Malaka sampai Afrika. Ceng Ho yang juga seorang muslim kala itu diyakini turut menyebarkan agama Islam dan memberantas perompak disepanjang pesisir nusantara yang dilaluinya.

Saat ini Ceng Ho menjelma menjadi nama Masjid berasitektur tiongkok, diantaranya Ceng Ho Surabaya, Pasuruan, dan Palembang. Masjid Ceng Ho di Surabaya merupakan Masjid pertama di Indonesia yang diberi nama Laksama Ceng Ho. Atas prakarsa dan gotong-royong sejumlah tokoh, para sesepuh Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) beserta masyarakat dan segenap stake holder maka pembangunan Masjid kebanggaan Muslim Tionghoa ini dapat terwujud.

Masjid Ceng Ho juga dikenal dengan nama Masjid Muhammad Ceng Ho memiliki luas bangunan 9 X 11 m2, berasitektur tiongkok dipadu dengan jawa dan arab. Arsitektur Tiongkok sangat terasa pada kombinasi warna pada tiap bagian yang didominasi oleh warna hijau, merah, biru dan kuning. Secara umum arsitektur Masjid ini mengacu pada salah satu Masjid berserajah di China yaitu Masjid Niu Jie di Beijing yang dibangun pada Tahun 996 M.

Jauh sebelumnya Ceng Ho tak hanya dipakai sebagai nama Masjid atau tempat peribadatan Kaum Muslim saja. Ceng Ho yang dikenal pula dengan nama Sam Poo Kong ini, telah lama digunakan sebagai nama sebuah kelenteng di Semarang, Jawa Tengah. Ada beberapa versi penyebab sang admiral dijadikan nama kelenteng. Ada yang menyebut bahwa Ceng Ho memang membangun Masjid dan Kelenteng, sedangkan versi lain menyebut bahwa Kelenteng Sam Poo Kong merupakan Masjid yang kemudian dirubah menjadi Kelenteng akibat derasnya kehadiran para pendatang Tionghoa yang beragama Tri Dharma  ke Semarang kala itu. Lantas dengan semakin banyaknya warga Tionghoa di Semarang menyebabkan perlahan-lahan Masjid dialih fungsikan menjadi Kelenteng hingga sekarang.

Terlepas dari kontroversi  penggunaan Nama Ceng Ho, adanya Masjid bernuansa oriental ini sebagai pertanda kembali pelurusan sejarah bahwa Ceng Ho tak lain adalah seorang Muslim yang taat. Masjid Ceng Ho kini telah menjadi ikon penting perkembangan Islam di Surabaya, sekaligus menjadi representasi eksistensi Muslim Tionghoa di Indonesia.

sumber : achmadbukhori.blogspot.com 
Share this article :

0 comments:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Support : achmad bukhori
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. KAMMI WILAYAH JAWA TIMUR - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Mas Template