Headlines News :
Home » , » Tentang Keresahan dalam Amanah Dakwah

Tentang Keresahan dalam Amanah Dakwah

Written By KAMMI Jatim on Selasa, 16 Juni 2015 | 08.45

Ibadah Disegala Kondisi (sumber gambar : www.antarafoto.com)

Oleh: Yunita Andriyanti (Sekum KAMMI Al Aqsha Magetan)


Sekeping hati dibawa berlari
jauh melalui jalanan sepi
jalan kebenaran indah terbentang 
di depan mata para pejuang….
tapi, jalan kebenaran
tak akan selamanya sunyi
ada ujian yang datang melanda
ada perangkap menunggu mangsa
(Saujana, ”Suci Sekeping Hati”)

Teringat bait lirik nasyid itu, terasa kembali kesyahduan perjuangan ini. Jalan perjuangan yang terjal penuh onak duri, panjang tanpa tau ujung yang dinanti, dan terkadang harus siap jika berjalan dalam kesendirian. Jalan yang panjang ini bukan kita saja yang menapaki, di depan sana, ketika kepayahan telah lama dirasakan, ketika peluh telah menetes bercucuran, ketika pengabdian kepada Allah telah  dicukupkan, kita akan tergantikan, rela tidak rela, suka tidak suka, siap ataupun tidak siap, semua pasti ada masanya.

Jangan dikira, dakwah ini tak akan berjalan tanpa dirimu, namun keberadaamu di sini adalah bagian dari tombak-tombak yang siap untuk diluncurkan menuju sasaran. Meskipun kadang arah angin membelokkan sang tombak menuju sasaran yang berlainan, itu tak ubahnya adalah bagian dari rencana Tuhan, Sang pembuat rencana kehidupan. Tugas kita adalah berbaik sangka dengan jalan cerita-Nya.  

Melanjutkan perjuangan, ketika kita ditunjuk menjadi bagian dari inti roda pergerakan dakwah, meskipun itu bukan pilihan, bahkan sesuatu yang mungkin sangat ingin dihindari, bahkan pernah dibenci dalam bayangan, ingatlah, bukan jamaah yang memilihkan, tapi Allah yang mempercayakan amanah itu dipikulkan di pundakmu. Dan tugas kita adalah menerima dengan penuh tanggung jawab semampu diri hingga batas waktu yang ditentukannya tiba. 

Tentu akan hadir begitu banyak tantangan dan problematika, yang bertambah hari semakin menggigit kesulitannya, hingga kadang kita harus menitiskan air mata, berlutut, terjatuh, bersimpuh, namun jangan pernah memilih untuk berputus asa, karena sesungguhnya cinta-Nya begitu dekat dengan kita. Yakinkan? Janjinya pasti. Jika Allah mencintai suatu kaum maka Dia akan mengujinya.

Ada yang datang, menjadi bagian dari bangunan dakwah yang kita bangun, ada yang menjadi pintu, ada yang menjadi jendela, ada yang menjadi atap, ada pula yang menjadi dinding dan penyangga, semuanya memiliki tugas pokok yang sama, niat ikhlas hanya demi mencari ridhonya, itulah yang menjadi modal utama untuk kita menjaga hubungan dan keeratan terhadap sesama saudara. Tanpa merasa diri paling tinggi derajatnya, paling baik posisinya, paling berkuasa, dan paling berhak menentukan masa depan saudaranya. Kita sama, dengan tugas khusus yang mungkin sedikit berbeda, namun semua harus mampu memberikan hak saudara sebagaimana seharusnya, agar hak dirimu tercukupkan oleh-Nya.

Ada yang pergi, berhijrah menuju lembah dakwah di bumi lain, atas izin Tuhan-Nya, tentu semua telah menjadi bagian dari rencana-Nya. Ketika itu terjadi, bukan berarti roda dakwah ini akan terhenti, hanya menuntun kita belajar agar tak bergantung pada yang lain, berusaha lebih mandiri. Belajar dari sebuah pohon, dengan dahan yang telah menguning dan layu, ia siap untuk patah dan terjatuh, untuk kemudian, di masa yang telah ditentukan, akan tumbuh bersemi tunas baru yang penuh energi baru. Dan tugas kita adalah mensuplai pertumbuhannya, menjaga ia dari penyakit dan hama yang membuatnya tercacat menjalankan fungsinya, tekun dan bersabar, itulah kuncinya…

Ketika tidak ada yang datang maupun pergi, dan kita berada dalam jamaah dengan posisi sebagai qiyadah, ingatlah, kita sedang membawa sebuah kereta dengan gerbong panjang agar tetap melaju dalam rel nya. Di sana ada banyak gerbong yang saling bertautan, di masing-masing gerbong dipenuhi penumpang, ada banyak pelaku dengan tugas yang telah ditetapkan. Berfokus pada tujuan, mengeratkan barisan dan kesolidan, adalah kunci menuju keberhasilan. Jangan berpikir kita sedang mengemudikan mobil dan membawa 4-5 penumpang saja, atau bahkan memboncengkan seseorang dengan motor atau sepeda, kita sedang berada pada kendaraan yang jauh lebih besar, dengan menjadi masinis, kita bertanggung jawab membawa seluruh penumpang menuju stasiun berikutnya. Di sana akan turun penumpang, dan naik beberapa penumpang baru menuju stasiun berikutnya lagi. Tugas kita hanyalah menjaga agar kereta tetap berjalan di relnya dan menuju stasiun berikutnya dengan selamat dan waktu tiba yang tepat. Tidak mudah bukan? Jika menyadarinya, perbanyaklah memohon pertolongan Tuhan, dengan selalu berusaha mendekatkan diri dan memperbaiki kekurangan diri, insya Allah pertolongannya dekat.

Ketika dalam jamaah kita berperan sebagai jundi, staf, mitra, dan sebutan lainnya yang serupa, ketaatan yang menjadi sumber ujian. Ketaatan yang sesuai porsinya, bukan tanpa pertimbangan, namun mampu mendukung keberhasilan tujuan jamaah. Hendaklah diri menyadari, belajar dari sebuah tangan dengan jari-jarnya, sang jempol tidak akan mampu mengambil benda yang diinginkan jika tanpa bantuan dan kerjasama jari-jari lainnya. Itulah kita, dalam barisan dakwah ini, semua saling memikul, membantu, dan menguatkan hingga sampai pada tujuan yang diinginkan. Dakwah adalah cinta, dan cinta akan meminta semuanya dari dirimu. Bersiaplah saudaraku, meniti jalan panjang menuju surga-Nya yang kekal. Insya Allah…aamiin.


Share this article :

0 comments:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Support : achmad bukhori
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. KAMMI WILAYAH JAWA TIMUR - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Mas Template