Parlemen Indonesia benar-benar
terbelah, dimana telah kita ketahui bersama DPR telah membentuk dua faksi berlawanan dan
mempunyai garis putih yang jelas. Faksi Koalisi Indonesia Hebat (KIH) terdiri
atas partai politik pengusung Joko Widodo – Jusuf Kalla yaitu PDIP, NASDEM,
PKB, “PPP” dan Hanura. Sedang Faksi lainnya yaitu Koalisi Merah Putih (KMP)
yang terdiri atas koalisi partai pengusung Prabowo-Hatta diantaranya Golkar,
Demokrat, PAN, Gerindra, “PPP”, serta PKS.
Adanya dua Faksi besar ini
membuat suasana politik Indonesia terasa sangat dinamis dengan visi dan kepentingannya
masing-masing. Secara perhitungan kursi
anggota Dewan Faksi KMP mempunyai rasio lebih besar dibandingkan Faksi KIH. Dengan
peta kekuatan politik ini seakan membuat parlemen dikontrol penuh oleh Faksi
KMP. Salah satu akibatnya DPR-MPR dan alat kelengkapan Dewan hampir sepenuhnya
dikuasasi oleh Faksi KMP. Seyogyanya hal
ini tak perlu terjadi apabila sedari awal, Partai Politik maupun Faksi yang ada
mengedepankan musyawarah mufakat untuk kepentingan rakyat. Namun apa boleh buat
desakan kepentingan pasca gesekan pemilu Presiden yang begitu luar biasa
membuat parlemen bagai “piring yang terbelah” alias sulit disatukan.
Selain unsur Partai Politik dan terbentuknya
Faksi yang memicu kekisruhan di parlemen, ternyata eksekutif berperan
memperkeruh suasana politik saat ini. Ditengah konflik Internal PPP, Pemerintah
melalui Menteri Hukum dan HAM (MENKUMHAM) selang beberapa saat setelah dilantik
mengeluarkan Surat Keputusan yang melegitimasi muktamar PPP kubu Romi yang
condong pada Faksi KIH. Hal ini tentu membuat kekisruhan kian memuncak ketika PPP
kubu SDA menyetorkan nama-nama calon dalam pemilihan alat kelengkapan anggota
dewan, namun dijegal oleh “Surat Sakti” dari MENKUMHAM tersebut. Bukan tanpa alasan
MENKUMHAM mengeluarkannya, melainkan aroma kepentingan untuk merekayasa peta
kekuatan politik di parlemen dengan menggoyang barisan Faksi KMP.
Dengan adanya PPP kubu Romi yang
legitimet tidak serta merta membuat KIH dapat bernafas lega, hal ini karena jumlah
kursi Faksi KIH masih dibawah Faksi KMP. Selama mekanisme keputusan-keputusan
legislatif diambil melalui mekanisme suara terbanyak, selisih satu suarapun
akan berpengaruh besar terhadap kebijakan politik yang dihasilkan.
Saat ini kita dipertontonkan
parody politik dimana Eksekutif dibawah Joko Widodo-Jusuf Kalla baru saja
mengumumkan susunan kabinetnya dengan formasi yang syarat bagi-bagi kursi,
tidak berselang lama disenayan kelompok Koalisi Indonesia Hebat “KIH” yang
notabene se-Faksi dengan Eksekutif mendeklarasikan Pimpinan DPR Tandingan
sebagai bentuk perlawanan terhadap susunan pimpinan DPR yang telah disahkan
sebelumnya.
Konflik dan manuver politik yang
terjadi, telah memperlihatkan tingkah elit politik yang tak mengedepankan etika,
moral dan kepentingan bersama. Melainkan politik syarat kepentingan golongan dan transaksional. Tentu hal ini sangat
berbahaya bagi stabilitas politik dan kepentingan bangsa. Sebagai lembaga
perimbangan Eksekutif, kisruh di Lembaga Dewan yang Terhormat akan mengganggu
fungsi legislasi dan mengganggu jalannya pemerintahan, mengingat struktur kabinet
negeri ini baru saja terbentuk yang akan berakibat pada penderitaan rakyat.
Politik di senayan tak ubahnya “Sasana”
ajang adu kekuatan dimana pihak yang kalah tak mau menerima dan yang menang tak
mampu mengakomodir yang kalah. Ada benarnya bila Almarhum Gus Dur menyebut DPR
ibarat taman kanak-kanak, saling berebut makanan tanpa tau etika. Masihkah elit
politik negeri ini menjungjung High
Politic sebagai pijakan ataukah terjerembak dalam Low Politic yang syarat kepentingan sehingga kehilangan jiwa ke-Negarawanan.
Tentu tak boleh patah arang, kita
harus optimis terhadap masa depan bangsa, tak semua Eksekutif ataupun Legislatif
berperilaku busuk. Secercah harapan akan selalu ada, masih ada sosok Pramono
Anung yang menolak dicalonkan menjadi ketua DPR versi KIH, Susi Pudjiastutik
Menteri Kelautan dan Perikanan pemilik Susi Air yang syarat Prestasi, Fahri
Hamzah yang selalu vocal dengan konstruksi berfikirnya, ataupun sosok-sosok
yang menginspirasi lainnya. Tentu masih banyak pula elit politik negeri ini
yang perlu melakukan “Revolusi Mental”.
Adanya gagasan dari para tokoh
elit negeri ini untuk mendamaikan kedua Faksi tentu menjadi sinyal positif bagi
Rakyat. Kekisruhan yang terjadi bukan hanya sebatas dalam ruangan senayan, melainkan
membawa nasib ratusan juta rakyat Indonesia. Sebagai orang nomor satu di negeri
ini besar harapan pada Joko Widodo mampu menggunakan peran strategis dan wibawa-nya
untuk mengakhiri kekisruhan politik yang mengancam keutuhan Bangsa itu. Sudah saatnya
Legislatif, Eksekutif, elit politik melakukan islah, menyatukan visi pembangunan untuk kemajuan bersama.
sumber : achmadbukhori.web.id



Tulisan yang bagus. Meskipun ada beberapa kata yang di gunakan tidak menggunakan ejaan yang bahasa Indonesia yang baku. Ada baiknya tulisan seperti ini di kirimkan ke surat kabar. Lebih mantap kan. Misal di kirimkan ke Kompas, Surya, Jawa Pos atau surat kabar yang baru yang banyak terbit di Jawa Timur akhir-akhir ini. Tulisan ini akan lebih mendapat apresiasi karena akan mampu mempengaruhi dan mencerahkan orang banyak. Sekaligus juga sebagai dokumentasi. Menurut saya tulisan di muat di surat kabar itu keren lo. Jadi ada baiknya untuk tulisan-tulisan selanjutnya di kirimkan ke surat kabar aja. So far so good lah. Good job.
BalasHapus