Headlines News :
Home » , » “Revolusi Mental” Parodi Politik Indonesia Hebat dan Merah Putih

“Revolusi Mental” Parodi Politik Indonesia Hebat dan Merah Putih

Written By KAMMI Jatim on Jumat, 31 Oktober 2014 | 19.44


oleh : 
achmad bukhori

Protes Faksi KIH dalam Prosesi Pemilihan Pimpinan DPR (sumber : rri.co.id)

Parlemen Indonesia benar-benar terbelah, dimana telah kita ketahui bersama DPR telah membentuk dua faksi berlawanan dan mempunyai garis putih yang jelas. Faksi Koalisi Indonesia Hebat (KIH) terdiri atas partai politik pengusung Joko Widodo – Jusuf Kalla yaitu PDIP, NASDEM, PKB, “PPP” dan Hanura. Sedang Faksi lainnya yaitu Koalisi Merah Putih (KMP) yang terdiri atas koalisi partai pengusung Prabowo-Hatta diantaranya Golkar, Demokrat, PAN, Gerindra, “PPP”, serta PKS.

Adanya dua Faksi besar ini membuat suasana politik Indonesia terasa sangat dinamis dengan visi dan kepentingannya  masing-masing. Secara perhitungan kursi anggota Dewan Faksi KMP mempunyai rasio lebih besar dibandingkan Faksi KIH. Dengan peta kekuatan politik ini seakan membuat parlemen dikontrol penuh oleh Faksi KMP. Salah satu akibatnya DPR-MPR dan alat kelengkapan Dewan hampir sepenuhnya dikuasasi oleh Faksi KMP. Seyogyanya  hal ini tak perlu terjadi apabila sedari awal, Partai Politik maupun Faksi yang ada mengedepankan musyawarah mufakat untuk kepentingan rakyat. Namun apa boleh buat desakan kepentingan pasca gesekan pemilu Presiden yang begitu luar biasa membuat parlemen bagai “piring yang terbelah” alias sulit disatukan.

Selain unsur Partai Politik dan terbentuknya Faksi yang memicu kekisruhan di parlemen, ternyata eksekutif berperan memperkeruh suasana politik saat ini. Ditengah konflik Internal PPP, Pemerintah melalui Menteri Hukum dan HAM (MENKUMHAM) selang beberapa saat setelah dilantik mengeluarkan Surat Keputusan yang melegitimasi muktamar PPP kubu Romi yang condong pada Faksi KIH. Hal ini tentu membuat kekisruhan kian memuncak ketika PPP kubu SDA menyetorkan nama-nama calon dalam pemilihan alat kelengkapan anggota dewan, namun dijegal oleh “Surat Sakti” dari MENKUMHAM tersebut. Bukan tanpa alasan MENKUMHAM mengeluarkannya, melainkan aroma kepentingan untuk merekayasa peta kekuatan politik di parlemen dengan menggoyang barisan Faksi KMP. 

Dengan adanya PPP kubu Romi yang legitimet tidak serta merta membuat KIH dapat bernafas lega, hal ini karena jumlah kursi Faksi KIH masih dibawah Faksi KMP. Selama mekanisme keputusan-keputusan legislatif diambil melalui mekanisme suara terbanyak, selisih satu suarapun akan berpengaruh besar terhadap kebijakan politik yang dihasilkan. 

Saat ini kita dipertontonkan parody politik dimana Eksekutif dibawah Joko Widodo-Jusuf Kalla baru saja mengumumkan susunan kabinetnya dengan formasi yang syarat bagi-bagi kursi, tidak berselang lama disenayan kelompok Koalisi Indonesia Hebat “KIH” yang notabene se-Faksi dengan Eksekutif mendeklarasikan Pimpinan DPR Tandingan sebagai bentuk perlawanan terhadap susunan pimpinan DPR yang telah disahkan sebelumnya. 

Konflik dan manuver politik yang terjadi, telah memperlihatkan tingkah elit politik yang tak mengedepankan etika, moral dan kepentingan bersama. Melainkan politik syarat kepentingan golongan  dan transaksional. Tentu hal ini sangat berbahaya bagi stabilitas politik dan kepentingan bangsa. Sebagai lembaga perimbangan Eksekutif, kisruh di Lembaga Dewan yang Terhormat akan mengganggu fungsi legislasi dan mengganggu jalannya pemerintahan, mengingat struktur kabinet negeri ini baru saja terbentuk yang akan berakibat pada penderitaan rakyat. 

Politik di senayan tak ubahnya “Sasana” ajang adu kekuatan dimana pihak yang kalah tak mau menerima dan yang menang tak mampu mengakomodir yang kalah. Ada benarnya bila Almarhum Gus Dur menyebut DPR ibarat taman kanak-kanak, saling berebut makanan tanpa tau etika. Masihkah elit politik negeri ini menjungjung High Politic sebagai pijakan ataukah terjerembak dalam Low Politic yang syarat kepentingan sehingga kehilangan jiwa ke-Negarawanan. 

Tentu tak boleh patah arang, kita harus optimis terhadap masa depan bangsa, tak semua Eksekutif ataupun Legislatif berperilaku busuk. Secercah harapan akan selalu ada, masih ada sosok Pramono Anung yang menolak dicalonkan menjadi ketua DPR versi KIH, Susi Pudjiastutik Menteri Kelautan dan Perikanan pemilik Susi Air yang syarat Prestasi, Fahri Hamzah yang selalu vocal dengan konstruksi berfikirnya, ataupun sosok-sosok yang menginspirasi lainnya. Tentu masih banyak pula elit politik negeri ini yang perlu melakukan “Revolusi Mental”. 

Adanya gagasan dari para tokoh elit negeri ini untuk mendamaikan kedua Faksi tentu menjadi sinyal positif bagi Rakyat. Kekisruhan yang terjadi bukan hanya sebatas dalam ruangan senayan, melainkan membawa nasib ratusan juta rakyat Indonesia. Sebagai orang nomor satu di negeri ini besar harapan pada Joko Widodo mampu menggunakan peran strategis dan wibawa-nya untuk mengakhiri kekisruhan politik yang mengancam keutuhan Bangsa itu. Sudah saatnya Legislatif, Eksekutif, elit politik melakukan islah, menyatukan visi pembangunan untuk kemajuan bersama.
sumber : achmadbukhori.web.id
Share this article :

1 komentar:

  1. Tulisan yang bagus. Meskipun ada beberapa kata yang di gunakan tidak menggunakan ejaan yang bahasa Indonesia yang baku. Ada baiknya tulisan seperti ini di kirimkan ke surat kabar. Lebih mantap kan. Misal di kirimkan ke Kompas, Surya, Jawa Pos atau surat kabar yang baru yang banyak terbit di Jawa Timur akhir-akhir ini. Tulisan ini akan lebih mendapat apresiasi karena akan mampu mempengaruhi dan mencerahkan orang banyak. Sekaligus juga sebagai dokumentasi. Menurut saya tulisan di muat di surat kabar itu keren lo. Jadi ada baiknya untuk tulisan-tulisan selanjutnya di kirimkan ke surat kabar aja. So far so good lah. Good job.

    BalasHapus

 
Support : achmad bukhori
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. KAMMI WILAYAH JAWA TIMUR - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Mas Template