![]() |
| Tentara Suriah Berjalan diantara Puing yang Hancur (sumber gambar : www.republika.co.id) |
oleh : Achmad Bukhori
Perang Suriah sebagai imbas dari rentetan Arab Spring tak kunjung Usai. Perang yang dipicu oleh ketidakpuasan atas kendali Pemerintahan Presiden Bashar al Asad, menyisakan duka yang mendalam. Seperti halnya sejumlah negara Arab yang terkena gelombang Arab Spring, kekisruhan di Suriah diawali dengan demonstrasi besar-besaran oleh kelompok kontra pemerintah yang menuntut mundur Rezim Al asad. Namun Suriah yang dipimpin oleh klan Asad tetap bergeming tetap tak ingin melepas tampuk kekuasaan dari tangannya. Hingga meletuslah perang saudara yang merenggut ratusan ribu jiwa itu.
Seperti yang dilansir oleh situs berita CNN tercatat tak kurang dari 215 ribu jiwa telah tewas, dan 1,3 Juta jiwa mengungsi di kamp pengungsian sejak perang tahun 2011 silam1. Sejak perang meletus, sejumlah faksi turut andil dalam pertempuran menentang rezim Diktator Asad. Selain Pasukan pemerintah, Rezim Asad yang dekat dengan kalangan syiah dibantu oleh milisi Hizbullah Lebanon dan secara diam-diam pula Iran turut serta membantu pertempuran melawan milisi pemberontak. Selama ini masing-masing pihak baik milisi kontra maupun kubu pro pemerintah silih berganti saling menuai pasang surut kemenangan.
Berbeda dengan gejolak Arab Spring lainnya, Perang Suriah termasuk perang paling sengit dan rumit. Tidak hanya rakyat Suriah yang berkepentingan dalam perang berkepanjangan ini. Sejumlah pihak asing yang ingin menancapkan pengaruhnya sebut saja Amerika dan sekutunya yang ingin menggerus dominasi Rusia di Timur Tengah ikut melancarkan serangan ke Suriah dengan dalih membantu kelompok pemberontak. Begitu pula pasca kehilangan Libya, Rusia tak ingin kehilangan sekutu dekatnya lagi. Keterlibatan Rusia dengan menyuplai sejumlah persenjataan bersama dengan Iran membuat Rezim Asad semakin bertengger diatas kursi kekuasaannya.
Namun belakangan peta perang telah berubah, selain pemberontak kontra pemerintah. Kini muncul faksi yang ingin mendirikan Daulah diantara Iraq dan Suriah. Kelompok ini menamakan dirinya dengan Islamic State in Iraq and Syam atau ISIS. Sejauh ini ISIS disebut-sebut sebagai sempalan dari kelompok Al Qaida membawa ide pendirian Khilafah dengan Pimpinannya Abu Umar Al Baghdadi.
ISIS popular dimata masyakat dunia dengan kebengisannya. Kelompok ini tak segan mengeksekusi para sandera yang dianggap representasi dari Negara yang Kontra terhadap misi ISIS meskipun hanya masyarakat sipil. Dalam dunia Islam, ISIS masih menuai kontroversi, Ulama Dunia Syekh Yusuf Qardhawi tidak sepakat dengan gagasan yang dibawa ISIS. Ketua persatuan Ulama Muslim se-Dunia itu, menilai khilafah ala ISIS tidaklah sah dan merusak perjuangan Islam2 . Ulama dalam negeri juga beranda sama, dengan ketidaksetujuannya terhadap khilafah ISIS. Ketua Umum PBNU Said Aqil Siraj dan Ketua Umum MUI Din Syamsudin mengecam dan menghimbau rakyat Indonesia untuk tidak terlibat dalam ISIS.
Belakangan pemberitaan soal gerakan ISIS semakin ramai diperbincangkan di dalam negeri akibat hilangnya 16 WNI saat mengikuti tour Wisata ke Turki. Menurut informasi yang beredar ke-16 WNI memisahkan diri ketika baru saja mendarat di Bandara Attaturk Turki. Mereka berpamitan akan menemui kerabatnya dan akan kembali beberapa hari kemudian. Namun sampai waktu yang disepakati para WNI yang memisahkan diri tak pernah kembali.
Berkaitan dengan isu hilangnya WNI di Turki, Menkopolhukam berdasarkan informasi dari Keduataan Besar di Turki menyatakan melalui sejumlah media bahwa ke-16 WNI diduga bergabung dengan ISIS3. Tentu pernyataan ini harus disikapi dengan bijak, sebab sedari awal sejumlah pihak Institusi pemerintah telah mengaitkan hilangnya ke-16 WNI ini dengan ISIS. Padahal sampai saat ini WNI yang hilang tersebut belum ditemukan jejaknya. Bahkan satu diantara nama ke-16 WNI yang hilang ternyata selama ini berada di Surabaya dan tidak pernah berpergian ke luar negeri4.
Lalu kenapa menyimpulkan bergabung dengan ISIS?
Seperti halnya penjelasan diatas perang Suriah tidak semata-mata perang yang dimonopoli oleh ISIS. Melainkan perang antara pasukan pemerintah dengan para pemberontak yang menginginkan turunnya rezim penguasa. Sejak awal meletusnya perang pada Tahun 2011, para pemberontak yang melawan rezim Bashar Al Asad telah terbagi dalam beberapa faksi. Namun belakangan gerakan ISIS muncul seakan-akan menarik media bahwa yang memegang bandul perang di Iraq dan Suriah adalah ISIS. kalaupun ada warga negara yang masuk ke Suriah tidak serta merta bergabung dengan gerakan ISIS.
Pengasosiasian WNI dengan ISIS dapat berimplikasi luas. Citra buruk gerakan radikal ini, akan membawa dampak psikologis bagi para WNI yang hilang, keluarga, maupun dunia Islam. Selain itu, kesan ISIS juga dapat menurunkan citra Turki sebagai representasi negara Islam yang moderat.
Saat ini Indonesia didera berbagai isu kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat seperti ketidakpastian/kenaikan harga BBM, terpuruknya nilai tukar rupiah, mahalnya harga kebutuhan pokok terutama beras, kacaunya supremasi hukum, rencana kenaikan tarif moda Kereta Api kelas ekonomi, dan naiknya tarif dasar listrik. Jika dibandingkan dengan isu ISIS, berbagai isu ini mestinya menjadi perhatian publik, karena inilah ancaman nyata bagi harkat hidup dan stabilitas nasional. Rakyat harus cerdas, akan adanya upaya ISIS dijadikan komoditi untuk mengaburkan sejumlah isu dalam negeri oleh elite yang tidak bertanggung jawab. Selain itu jangan sampai isu ISIS dijadikan upaya untuk mendemarketisasi Islam dan memecah belah persatuan bangsa oleh pihak-pihak yang menginginkan umat lupa akan berbagai ancaman "nyata" di depan mereka.
Refrensi :
1. http://www.cnnindonesia.com/internasional/20150316112945-120-39385/korban-perang-suriah-tembus-200-ribu-orang/
2. http://www.dakwatuna.com/2014/07/05/54134/syaikh-qaradhawi-khilafah-ala-isis-tak-sah-secara-syariah/#axzz3UYDhT3Qi
3. http://www.tempo.co/read/news/2015/03/09/058648482/Kata-Menteri-Tedjo-Soal-ISIS-dan-16-WNI-yang-Hilang-di-Turki
4. http://news.detik.com/read/2015/03/12/163814/2857170/10/dikabarkan-hilang-di-turki-suroya-cholid-ternyata-masih-ada-di-surabaya?n991103605



0 comments:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !