![]() |
| Doc : KAMMI Ngawi |
NGAWI – Pimpinan Pesantren Al Hijrah Ustad Hery, Lc dalam
kunjungan dan silaturahmi tokoh Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia
(KAMMI) Komisariat Ngawi berikan analisa tuntutan kebutuhan masa depan anak.
Dari
aspek pendidikan Hery menilai belum adanya lembaga pendidikan yang sesuai untuk
memenuhi kebutuhan anak.
“Selama
ini saya belum menemukan pesantren/sekolah cocok untk kebutuhan masa dpn anak
bangsa”, ungkap Hery, Rabu (22/07/2015)
Sistem
negara Indonesia menurut Hery berada dalam keadaan yang memprihatinkan. Hal demikianlah
yang menuntut terobosan baru sebagai pengubah dan jalan perbaikan.
Hery
menambahkan di jaman modern ini masyaraka Indonesia disuguhi hal yang instan
dan memicu setiap orang hrus memiliki uang.
Pihaknya
mencontohkan kecondongan orang desa untuk lebih menggunakan LPG daripada kayubakar yang dihasilkan dari ladang
sendiri.
“Kita
udah disetting oleh penguasa untk menjadi pekerja bkan manager. Lihat
pemerintah memberikan iming-iming kepada lulusan SMK bisa bekerja di
pabrik-pabrik besar baik dalam atau luar negri, lulusan terbaik perguruan tinggi
akan menjadi tenaga ahli di perushan ternama”, Hery melanjutkan, “Dengan itu kita
dididik dengan mental pekerja/buruh di pabrik/perusahaan asing. Ribuan bahkan
jutaan orang kita saat ini menjadi pekerja di perusahaan asing seperti Freeport,
Epson, Astra, dan lainnya, di mana kita tidak memberi income dalam negeri. Kita
bekerja hanya bertujuan mencari uang”.
Masyarakat
Indonesia, dijelaskan oleh Hery juga diajari agar menjadi konsumen bukan
produsen. Negara tidak memberikan fasilitas atas melimpahnya perkebunan
Indonesia, pemilik kebun meneruskan pengelolaan pada asing.
“Pemilik
kebun terpaksa menjual ke pabrik-pabrik asing untuk mengolahnya. Masyarakat
Indonesia sendrilah yang kembali membeli setelah jadi. Membeli dengan harga
tinggi dan lagi-lagi kita perlu uang”, tandas Hery.
Ditambah
kebijakan-kebijakan penguasa yang terkesan sembrono menempatkan Indonesia
semakin menjadi negri yang memprihatinkan.
“Berangkat
dari itu, saya mengingikan pesantren atau sekolah yang mendidik anak untuk siap
menghdapi dan memperbaiki bangsa ini, selain memiliki akhlak, keilmuan, keagamaan
yang mumpuni, juga mencetak generasi dibidang produksi”, tambah Hery.
Hery
mengutip perkataan Nabi Daud AS bahwa sebaik-baik rizki itu adalah rizki
yang kita hasilkan dgn usaha kita sendiri (produsen).
Di
akhir taujihnya, Hery menyampaikan mandat kepada Kader KAMMI Ngawi beserta
donatur dan walisantri untuk terus melanjutkan misi perbaikan, khususnya di
bidang pembinaan melalui sekolah ataupun pesantren.
“Kami
(red : pesantren) tidak mengedepankan latar blakang santri yang pintar ataupun jenius,
tapi kami butuh santri yang baik, ulet dan istiqomah. Seandainya saya dan istri
tutup usia, brarti antm2 smua yang hrus mlanjutkan cita-cita kami, baik itu
mengembangkan yang sdah ada atau mendirikan pesantren sekolah yg baru dimanapun
antum tinggal”, pungkas Hery.
Kontributor
: Gatot
Editor
: Ern



0 comments:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !